Tampilkan postingan dengan label Jika Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jika Esai. Tampilkan semua postingan
Rabu, 14 November 2012 0 komentar

Consumer Society


Consumer Society

   Do you know why people love to buy something they don’t need? Spends money for things that never use, consumes something they really don’t like to eat? Regarding to this problems, after industrial revolution in England and the beginning of modern culture, people don’t aware of anything about the industrial impact and it influences to the world civilization. The most frightening impact of industrial development and the spreading of it ideas are about influencing the human behaviors to buy, to consume, and to perform. Jean Boudrillard said to this condition with ‘consumer society’.
   Sociologically, the industrial development stimulates to economic development, prosperity and mechanical reproduction. It is gradually makes people or world become prosperous and his buying capacity which commodities they want easily gotten. Because they have money, actually. Latter, either personal or group in a company, have the right to enrich they capital asset and build their opportunity to build economic development. The exchange of commodities object as the principal of economic development becomes something that unavoidable. This period named as capital economy that becomes something critical.
   Jean Boudrillard, as a Marxist commentator toward capitalism--but he gradually abandoned Marxist method because of the inappropriate theory in reading of the development of capitalism today--argue on other effect of economic development. The system of economic within it object exchange no more use a principle of classic economic. It is not about simple deal of exchanges but indoctrinating and influencing  people psychologically and sociologically to feel always lack and less of goods. They forced to buy every material object and service from the industrial output by monopolistic system. This is the system that the very newest of the capital system and said as consumer society.         
   There are questions appear related to consumer society term above. The first problem is consumption as independent or nondependent activity and the second related about psychological conditioning or do we controlled by any other system of influence. To read these problems, we really need any perspective through any critical theories.
   We are living in the new period of the objects. It not about human things anymore as essential object of living but it is about goods, a foods, and clothing. People of the previous period feel pleasure and find a value of living in interaction to another human living. They interacted in knowledge exchange, classic trading, and find living pleasure in communal perspective. People of consumer society feel pleasure in individuality. This period begin with goods accumulation or profusion. We can see everything after we cross our front yard and streets such department store, factory outlet, or any goods advertising in billboard and television. We don’t know how to control our willing to buy even in sleep. Advertisement influences our brain and forces our consciousness as we need everything to buy. It system of objects even worst with it signification to any pleasuresness, beauty, femininity, masculinity appears when we buy one of the products. For this reason, consumption becomes something controlled by advertisement signification and it influences of our psychological being.
   Finally, if you ever heard the modern philosophical wise as, “You are what you think / cogito ergo sum” actually has been changed by sentence, “You are what you eat”. This is period of late capitalism and consumer society where the values of living is on what you eat. The period where people sleeps even controlled by exchange values and gods exist in your pocket.

Bahtiar Rifa'I 
Jakarta, 10/02/2011       
                                                     
Jumat, 09 November 2012 0 komentar

Mahasiswa Copy-Paste


Mahasiswa Copy-Paste
Pythagoras berkata kepada muridnya yang malas belajar,
“Wahai anak muda, jika engkau tidak sanggup menahan lelahnya belajar, engkau harus menanggung pahitnya kebodohan.”
Sekitar 3 bulan lalu dunia akademisi di Indonesia dikagetkan dengan banyak kasus plagiasi dilakukan oleh guru besar yang mengakui karya orang lain sebagai hasil tulisannya sendiri. Menjiplak secara utuh dari jurnal internasional hanya untuk mendapatkan sertifikasi demi kenaikan pangkat dengan mengorbankan nilai moral pendidikan.
Sebagai mahasiswa pembelajar dan peduli pada kemajuan pendidikan Indonesia, yang terjadi di beberapa kota besar tersebut, adalah noda dan dosa yang tidak dapat diampuni dalam dunia pendidikan. Dan sebagai mahasiwa yang mengemban amanat kenabian (agent of social change), mari kita refleksikan diri selama dan sebagai mahasiswa sampai saat ini, sudahkan kita bersih dari kegiatan plagiasi.
Plagiasi atau penjiplakan jika ditinjau secara hukum tertuang pada UU nomor 29 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan medefinisikan term plagiat sebagai pengambilan atau pencuplikan karya/pendapat orang lain dan menjadikannya seolah-olah karya/pendapat sendiri. Modus dari plagiasi ini dengan mengutip karya/pendapat orang lain tanpa menyebut sumbermya, atau menjiplak sebagian atau semua karya/pendapat orang lain dengan objek antara lain tesis, disertasi, makalah, skripsi dan karya ilmiah.(Kompas, 19/02/2010).
Nah, untuk civitas akedemika UIN-Jakarta, hemat subjektif penulis paling tidak sebagian besar dari kita pernah melakukan plagiasi. Jika ingin jujur, dan kita tidak perlu melakukan penelitian untuk berapakan presentasi mahasiswa UIN yang pernah melakukan plagiasi. Sadar atau tidak, karena sistem informasi sudah sangat modern, kita diberikan banyak informasi tersedia di internet dan membuat mahasiswa nyaman untuk ber-copypaste-ria jika ada tugas makalah, paper, atau skripsi. Atau, jika sulit menemukan data di internet, para plagiator menjiplak ide-ide tanpa memberikan sumber kutipannya dari sumber buku kutipan.
Percaya atau tidak, jika plagiasi menjadi kebiasaan, ini menunjukan bahwa pendidikan bukan lagi tempat untuk menjadikan manusia mahluk yang bermoral. Pendidikan bukan lagi tempat manusia belajar kejujuran dan kearifan dari hasil akumulasi nilai-nilai yang didapat ketika mahasiswa dalam proses pembelajaran.
Sebagaimana amanat pendidikan yang sesungguhnya, mahasiswa bukan kuliah untuk mencari nilai, tapi mahasiswa diajarkan dalam kampus dalam proses pembentukan karakter, kejujuran, kebajikan dan tentu sebagai pengemban amanat kenabian dalam masyarakat (agent of social change).
Jika nilai-nilai kebajikan di atas sudah tidak ada di dalam institusi pendidikan, dan ketidakjujuran sudah dilakukan tidak hanya sekedar mahasiswa tapi oleh dosen atau guru besar, institusi pendidikan sudah teralihkan fungsinya menjadi pabrik. Pada kondisi ini, mahasiswa dan pengajar berlomba untuk menciptakan nilai prestasi dengan segala cara. Karena yang penting adalah bukan kualitas pembentukan jiwa individunya, tapi bagaimana “dia” bisa mencitrakan sebagai produk (mahasiswa) yang berkualitas dengan melakukan kecurangan-kecurangan dalam bentuk plagiasi dan manifulasi.
Menyontek, menjiplak, potong ide sana-sini. Jika sudah menjadi kebiasaan di antara mahasiswa demi mencari nilai--jangan heran--menurut penulis, praktek pendidikan seperti ini tidak akan menciptakan kualitas mahasiswa yang bisa melahirkan revolusi dalam pendidikan Indonesia. Mentalitas demikian, adalah mentalitas mahasiswa yang menerabas demi hasil padahal dengan cara cemar dan memalukan (Koentjaraningrat, 1986, lihat Kompas, 19/02/2010). Mentalitas ini harus dirubah. Institusi pendidikan harus bisa melahirkan mahasiswa yang berkulitas, jujur serta paham akan hakikat sesunguhnya dari pengertian pembelajar. Juga harus bisa menanamkan bahwa plagiasi adalah dosa besar dalam proses pembelajaran dan haram hukumnya bagi mahasiwa yang melakukan plagiasi.

Bahtiar Rifai
April 2010


    

Pengikut

Pages

 
;